Berbagi Lentera

:: karena Hidup Pasti Butuh Lentera ::

Selimut Hati Wanita

leave a comment »

Para wanita nun jauh di sana, tentu bukan Anda, memiliki sesuatu yang unik. Unik yakni bisa menjadikan sebuah alasan yang tampaknya kurang tepat menjadi seakan-akan tepat. Coba mereka kita beri sebuah hadiah yang menyentuh perasaan mereka. Hadiah satu pertanyaan yang barang tentu sudah terpatri dalam diri mereka jawabannya. “Wahai putriku, mengapa kemuliaan untuk Engkau, tidak segera engkau selimutkan untuk menutupi kehormatanmu? Tidakkah kau merasa, bahwa dirimu sudah beranjak dewasa, tidak seperti dulu lagi, yang masih imut dan menggemaskan? Spontan si wanita itu menjawab, “Ah lu coy, iman itu kan letaknya di hati?”.

Mereka yang belum berjilbab menjawab demikian ini, mungkin karena maksud baiknya terhadap hadits Rosululloh: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta kekayaanmu, tetapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian”.

Nah, tampak bagi kita, bahwa mereka sepertinya hendak menggugurkan makna yang semestinya, kebenaran dibelokkan kepada kebatilan. Emang benar, iman letaknya dalam hati, tetapi iman itu ndak sempurna bila dalam hati saja…

Terus makna hadits tersebut apa?
Dengan hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hendak menjelaskan makna keikhlasan bagi diterimanya suatu amal perbuatan. Allah tidak melihat bentuk-bentuk lahiriah, seperti pura-pura khusyu’ dalam shalat dan sebagainya, tetapi Allah melihat hati dan keikhlasan niat dari segala yang selain Allah. Karena Dia tidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang ikhlas untuknya semata….

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda: “Taqwa itu ada di sini”, seraya menunjuk ke arah dadanya “. Maknanya bahwa pahala amal tergantung keikhlasan hati, kelurusan niat, perhatian terhadap situasi hati, pelempangan tujuan dan kebersihan hati dari segala sifat tercela yang dimurkai Allah.

Ooohh… iman itu juga tercakup di hati, lisan, dan anggota badan toh?
Ibu dan Mbak-mbak yang baik, iman itu tidak cukup hanya dalam hati. Iman dalam hati semata tidak cukup menyelamatkan diri kita dari neraka dan mendapatkan surga. Nah, berarti iman itu definisinya keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan dan pelaksanaan dengan anggota badan. Lengkap khan? Yuhuu, lengkap sekali.
Berarti, kalau ada yang ngaku iman di lidahnya tapi gak diyakini dalam hati, atau beramal sebatas gerak tubuh tapi juga gak diyakini dalam hati, maka termasuk keadaan orang-orang munafik….Dan saya yakin, Ibu dan Mbak-mbak bener-bener memiliki iman yang sempurna, InsyaAlloh. Pertahankan!

Mo cerita sebentar, pada masa Nabi Shallallahu alaihi wasalam, orang munafik juga senantiasa shalat bersama beliau, berperang, mengeluarkan nafkah, pulang pergi bersama kaum muslimin, tetapi hati mereka tidak pemah iman kepada agama Allah. Kepada mereka, Allah menghukumi sebagai orang-orang munafik dan balasannya, gak tanggung-tanggung, berada di kerak atau dasar neraka.

Demikian pula orang yang beriman hanya dengan hatinya tanpa disertai amalan anggota badan. Yang punya sifat ini yaitu IBLIS. Padahal iblis itu percaya ama kekuasaan Allah, Dzat yang menghidupkan dan mematikan mereka. Sehingga dia meminta penangguhan kematiannya. Iblis juga percaya adanya hari Kiamat, tapi dia tidak beramal dengan anggota tubuhnya. Allah sudah berfirman: Artinya: “la (iblis) enggan dan takabur dan dia temasuk golongan orang-orang kafir” (Al Baqarah:34). Wah-wah, makanya jadikan iblis itu seburuk-buruk musuh kita…

Dalam Al Qur’an, setiap kali disebutkan kata iman, selalu disertai dengan kata amal, seperti: “Orang yang beriman dan beramal shalih……dst. Amal selalu beriringan dan merupakan konsekuensi iman, keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan.

Maka untuk para wanita nun jauh di sana…
Kepada saudariku yang belum berjilbab dengan alasan “iman itu letaknya di hati”, kami hendak bertanya kepadamu, andaikata seorang kepala sekolah memberimu tugas seperti membuat laporan, mengawasi murid-murid, memberi pelajaran ekstra kurikuler, menggantikan guru yang berhalangan hadir atau pekerjaan lain, maka logiskah jika Anda menjawab: “Dalam hati, saya percaya bener dan sudah muantap terhadap apa yang diminta kepala sekolah kepadaku, tapi aku tidak mau melaksanakannya”. Apakah jawaban ini bisa diterima? Lalu apa akibat yang bakal menimpa Anda? Paling-paling…..

Ini sekedar contoh dalam kehidupan manusia. Lalu bagaimana jika urusan ini berhubungan dengan Allah, Tuhan manusia yang memiliki sifat Yang Maha Tinggi? Yang telah menyuruh para bidadari dunia seperti Anda, untuk mengulurkan jilbabnya?

Maka saudariku, yuuk berjilbab….Jilbab yess lagi!

Intisari :
alsofwah.or.id
Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab-Syubhat Ketiga, Syaikh Abdul Hamid Al Bilaly

Written by berbagilentera

November 29, 2008 at 11:23 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: