Berbagi Lentera

:: karena Hidup Pasti Butuh Lentera ::

Kuliah Jalan Kaki, Bayar SPP dengan Hadiah Lomba

leave a comment »

Keterbatasan tak seharusnya menghalangi prestasi. Akhmad Zainuri, mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Universitas Brawijaya (UB) telah membuktikannya. Hobinya di bidang elektronika mengantarkannya setara dengan pemuda berprestasi nasional. Oleh Menpora, dia disejajarkan dengan Dik Doank, artis dan pemuda yang peduli pendidikan anak, serta Andy F. Noya, host Kick Andy.

Piagam penghargaan dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI berwarna emas dan bingkai warna senada, dipajang Zen -sapaan akrab Akhmad Zainuri- di ruang tamu rumahnya, Jalan Kanjuruhan Gang 4 RT 4 RW 3 Tlogomas. Piagam itu ditandatangani Menpora Adhyaksa Dault.

Konsistensi Zen berkarya di bidang elektronika membuat Menegpora memilihnya sebagai salah seorang dari 22 orang se-Indonesia yang menerima penghargaan Festival Pemuda Berprestasi 2008, pada 28 Oktober 2008 lalu.

Selain Zen, Menegpora juga memberikan penghargaan yang sama untuk Dik Doank, Andy F. Noya, Bimbo, dan Widyawati, istri Sophan Sopyan. Dalam upacara Sumpah Pemuda di TMII, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkesempatan memberi selamat pada mereka.

Dua karya elektronika Zen yang baru-baru ini terpublikasi adalah Braille Hijaiyah dan Muhaji Finder. Braille Hijaiyah adalah alat mirip keyboard komputer untuk belajar huruf hijaiyah bagi tuna netra. Tombol huruf dilengkapi kode Braille, sementara bunyi abjad didengarkan penderita melalui headphone.

Sedangkan Muhaji Finder adalah alat berbasis GPS (global positioning system) untuk menandai jamaah haji yang tersesat. Tinggal pencet satu tombol, alat tersebut akan memancarkan sinyal lokasi. Muhaji Finder dibuat Zen bersama empat rekannya.

Mengejar prestasi bagi Zen seperti bagian dari denyut nadi hidupnya. Sejak sekolah dasar di SDN Dinoyo V Kota Malang, pemuda asli Dinoyo ini berupaya meraih segala kesempatan yang melintas di depannya. Prestasi pun mengikuti langkah hidupnya yang tak mau melewatkan kesempatan tersebut.

Di tingkat SMP, dia adalah juara pidato, jelajah kota sakawanabhakti, dan lomba PBB. Menginjak SMA, prestasinya dalam lomba PBB juga terus mengikutinya. Sampai-sampai dia ditetapkan sebagai komandan peleton terbaik saat SMA.

Di bangku kuliah, Zen adalah mahasiswa teladan Politeknik Negeri Malang (Polinema), Juara Favorit Lomba Mekatronika III, Juara II Lomba Karya Ilmiah Lingkungan Perairan, Juara I Lomba Cipta Elektronika Nasional (LCEN) 2006. Ia pun dinobatkan sebagai pemuda berprestasi oleh Menpora, saat peringatan hari sumpah pemuda di TMII 20 Oktober 2008 lalu.

Terus mengikuti berbagai lomba dan kejuaraan apapun jenisnya, bukan tanpa alasan. Zen mengaku dengan cara itulah jalan untuk bersekolah tinggi dan menambah ketrampilan hidup dia dapatkan. Melalui lomba-lomba itu pula dia bisa bersekolah tanpa harus membayar SPP. Sebab rata-rata, di tempat dia menimba ilmu, menjadi juara akan mendapatkan reward SPP gratis. Di UB misalnya, juara nasional berarti gratis SPP setahun.

Dengan berkompetisi dan menjadi juara, maka menjadi ringanlah beban kedua orang tua yang menghidupi anak-anaknya dengan berjualan tahu keliling. “Alhamdulillah. Mulai SD hingga kuliah ini, saya tak pernah bayar SPP. Saya bayar dengan mengikuti berbagai lomba dan berprestasi untuk sekolah saya”, kata anak kedua dari empat bersaudara ini.

Jalan terjal kehidupan yang diberikan Tuhan pada Zen telah menempanya menjadi sosok yang tegar dan kuat. Zen tahu betul, bersekolah tinggi bagi dia dan keluarganya adalah barang mahal yang tak gampang diraih. Faktor ekonomi semata yang membuatnya harus berjuang lebih keras dari pemuda sebayanya. “Saya selalu yakin Allah memberi yang terbaik. Makanya saya ringan saja melangkah,” kata Zen berbagi cerita hidup.

Kadang kala, berbagai lomba yang dia ikuti tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan hobinya utak atik elektronika. Maka jalan lain harus dia tempuh untuk mendapatkan uang halal. Zen pun memilih menjadi loper koran mulai dia SMA hingga masuk bangku kuliah. Plus menjadi cleaning service di beberapa rumah tetangga yang membutuhkan. Hasil keringatnya itu ia pergunakan untuk membiayai keperluan sekolah atau membeli beberapa komponen elektronika.

Karena ingin berhemat, sejak sekolah di STM Singosari (sekarang SMKN 1 Singosari) Zen pulang pergi jalan kaki. Setiap hari, jejak kakinya melangkah menyusuri jalan sepanjang 20 kilometer, dua kali sehari. Saat menjadi mahasiswa Polinema dan kini alih jenjang di S1 Teknik Elektro Universitas Brawijaya, Zen juga selalu jalan kaki pulang pergi.

Dari rumahnya di kawasan Jalan Kanjuruhan Tlogomas, Zen butuh 45 menit menuju kampus dengan berjalan kaki. Bolak balik dia butuh 1,5 jam sehari. “Pesan bapak, kalau baik dan halal, mengapa harus malu,” ucap pemuda 24 tahun ini.

Hidup akan selalu berwarna dan cukup menantang kalau punya mimpi. Begitulah kata Zen mengungkapkan resep yang selalu membuatnya bersemangat. Mimpi, katanya, akan membuat seseorang terpacu mencari jalan mewujudkannya menjadi kenyataan. Mimpi pula yang membuatnya terus konsisten mengikuti berbagi lomba elektronika dan ingin menjadi juara.

Setelah mimpi, maka saat bangun harus sudah punya langkah untuk mewujudkan impian. Impian tak harus besar. Yang jelas bisa diraih dan dikejar. Apa mimpi jangak pendeknya? “Saya ingin punya motor. Karena kegiatan saya sudah makin padat. Mimpi yang sederhana kan,” ungkap pemegang prinsip: hidup sekali hendaklah punya arti ini.

Disalin dari Radar Malang-Jawa Pos, Selasa 4 November 2008

Written by berbagilentera

November 16, 2008 at 12:05 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: