Berbagi Lentera

:: karena Hidup Pasti Butuh Lentera ::

Bom lagi, bom lagi …

leave a comment »

Kenapa selalu ada bom? Habis ngebom langsung lari bahkan meledakkan dirinya sendiri di kawasan ramai penduduk. Gak habis pikir, pengeboman dilakukan di kawasan yg bukan daerah peperangan. Dan pengeboman ini dilakukan segelintir kalangan muslim dan non muslim, tapi yg banyak disorot adalah tentu yg muslim-muslim.

Lalu apakah Islam mengajarkan seperti ini? Hmmm..mari kita diskusikan.

Islam datang untuk menjaga 5 pokok dasar dan haram utk diterjang. Yaitu agama, jiwa, harta, kehormatan, dan akal. Semua orang muslim sepakat bahwa haram menganiaya jiwa orang yang terjaga dalam agama Islam sehingga tidak boleh dianiaya dan dibunuh tanpa alasan yang benar.

Surat AnNisa 93, artinya : “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. Wah….balasannya dobel-dobel.

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal darah seseorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah kecuali (karena) tiga perkara : jiwa dengan jiwa, pezina yang sudah menikah dan orang yang keluar dari agama Islam, meninggalkan jama’ah” (Muttafaqun ‘alaihi). Dan bersabda, “Sungguh hancurnya dunia itu lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim”(Sunan Nasa’i).

Sebuah kisah, ketika kaum muslimin dalam kancah peperangan, Usamah bin Zaid berhasil mencapai seorang laki-laki musyrik. Dan dia mengucapkan kalimat tauhid tapi Usamah membunuhnya karena menurut persangkaannya orang musyrik tersebut mengucapkannya hanya untuk menyelamatkan dirinya. Sekalipun beralasan demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima alasan Usamah. Semua ini menunjukkan betapa besar kehormatan darah kaum muslimin dan besar dosa pelanggarnya.

Begitu pula harta kaum muslimin adalah haram diambil dan terjaga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya darahmu, dan hartamu adalah haram bagimu, seperti haramnya harimu ini, dalam bulanmu ini, dalam negerimu ini” (Hadits riwayat Muslim).

Terus, bolehkah membunuh non muslim?

Dan termasuk jiwa yang dilindungi dalam Islam ialah jiwa-jiwa yang terikat perjanjian dan ahli dzimmah (orang-orang bukan Islam yang berada di bawah perlindungan pemerintah Islam) dan orang-orang yang meminta perlindungan (keamanan). Termasuk pula harta mereka terlindung, tidak boleh diganggu.

Rosululloh bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang mu’ahid (orang kafir yang ada dalam ikatan perjanjian, -pent), maka ia tidak akan mencium bau syurga, padahal baunya itu bisa dirasakan sejauh 40 tahun perjalanan” (Hadits riwayat Bukhari).

Ketika Ummu Hani memberikan perlindungan kepada seorang musyrik pada peperangan Fathu Makkah, dan Ali bin Abi Thalib hendak membunuhnya, maka Ummu Hani pergi menemui Nabi dan menceritakannya, maka Nabi bersabda : “Sesungguhnya kami melindungi orang yang engkau beri perlindungan wahai Ummu Hani” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Maksudnya bahwa orang yang masuk dalam suatu perlindungan keamanan atau terikat perjanjian dengan penguasa karena suatu kemaslahatan yang ia pandang, maka ia tidak boleh diganggu dan dianiaya baik jiwa maupun hartanya.

Berarti pengeboman itu gimana Pak? Boleh?

Peristiwa pengeboman adalah perkara yang tidak dibenarkan oleh agama Islam dari berbagai sisi. Yaitu (simak baik-baik, jangan ngantuk) :

[1] Pendzaliman terhadap kehormatan negeri kaum muslimin dan membuat resah bagi orang-orang yang merasakan aman di dalamnya.
[2] Merupakan pembunuhan terhadap jiwa yang terjaga dalam syari’at Islam
[3] Membuat kerusakan di muka bumi.
[4] Perusakan harta benda yang dilindungi.

Sekarang, bom bunuh diri nih…

Bunuh diri dengan bom, maka ini tercakup dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa bunuh diri dengan menggunakan sesuatu di dunia, maka ia akan diadzab dengannya pada hari kiamat” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Awanah dalam Mustakhrajnya dari hadits Tsabit bin Ad-Dhahhaak Radhiyallahu ‘anhu).

Dan bersabda, “Barangsiapa bunuh diri dengan memakai sepotong besi, maka potongan besinya itu ada di tangannya, ia akan memukuli perutnya dengan besi itu dalam neraka jahannam, kekal abadi didalamnya selama-lamanya. Barangsiapa bunuh diri dengan minum racun, niscaya ia menghirupnya di neraka jahannam kekal didalamnya selama-lamanya. Barangsiapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka kelak ia akan jatuh ke dalam neraka jahannam kekal di dalamnya selama-lamanya” (HR. Muslim). Di dalam shahih Bukhari juga terdapat seperti hadits ini.

Kamu udah tahu?

Umat Islam pada hari ini menderita karena penguasaan musuh dari berbagai sisi. Musuh itu bergembira dengan adanya sarana untuk menguasai kaum muslimin, merendahkan martabat, dan mengeruk kekayaannya mereka. Maka barangsiapa yang membantu musuh-musuh Islam dalam tujuan mereka, dan membuka pelabuhan (pangkalan) bagi mereka untuk menindas kaum muslimin dan negeri Islam, maka sungguh ia telah menolong musuh untuk melecehkan kaum muslimin dan menguasai negeri mereka. Ini adalah termasuk dosa paling besar.

Jadi kita mesti gimana ?

[1] Belajar ilmu syar’i yang diambil dari Kitab dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah, yang ditempuh lewat sekolahan, perguruan tinggi, masjid-masjid, dan sarana informasi.
[2] Amar ma’ruf dan nahi munkar dan saling menasehati dalam perkara yang hak. Keharusan menyeru manusia (agar kembali kepada agamanya dan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar) pada saat sekarang lebih besar daripada waktu yang telah lewat.
[3] Bagi para pemuda muslim berbaik sangkalah kepada ulama mereka dan mengambil (ilmu dan fatwa) dari mereka, ketahuilah, sebagian usaha musuh-musuh Islam ialah menumbuhkan benih perselisihan antara pemuda Islam dengan ulamanya, serta dengan pemerintahnya, hingga mereka melemah, akibatnya mudah menguasai mereka.

Pesan ulama…

Mudah-mudahan Allah menjaga kita dari tipu daya musuh, dan wajib bagi kaum muslimin bertaqwa kepada Allah baik secara sembunyi maupun terang-terangan, dan bertaubat dengan jujur dan sebenar-benarnya dari segala dosa. Karena sesungguhnya tiada turun satu bencana melainkan disebabkan dosa (yang diperbuat hamba) dan tiadalah malapetaka itu akan hilang melainkan dengan adanya taubat.

Kami memohon kepada Allah semoga Dia memperbaiki keadaan kaum muslimin, dan menjauhkan negeri kaum muslimin dari segenap keburukan dan perkara yang dibenci. Semoga shalawat dan salam diberikan Allah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabatnya.

Intisari dari :
http://www.almanhaj.or.id
[Diterjemahkan oleh Ibnu Ahmad dari Majalah Ad-Da’wah volume 1893, 21 Rabi’ul Awwal 1424H/22 Mei 2003M hal. 32-33, Disalin ulang dari Majalah Al-Furqon edisi 1/Th III/Sya’ban 1424 hal. 38-41]

Awas Faham Khawarij Menjangkiti Harakah Islamiyah
 
Muhammad `Ali Ismah Al Medani
 
Tahukah anda apa pemahaman Khawarij itu? Pemahaman Khawarij itu adalah pemahaman yang sesat! Pemahamannya telah memakan banya korban. Yang menjadi korbannya adalah orang-orang jahil, tidak berilmu dan berlagak punya ilmu atau berilmu tapi masih sedikit pemahamannya tentang dien ini.
 
Para pemuda banyak menjadi korban. Dengan hanya bermodal semangat semu mereka mengkafirkan kaum muslimin. Mereka kafirkan ayah, ibu, dan saudara-saudara mereka yang tidak sealiran atau tidak sepengajian dengan mereka. Sebaliknya mereka menganggap hanya dirinya saja yang sempurna Islamnya dan menganggap yang lainnya kafir. Ringan sekali lidah mereka menuduh kaum muslimin sebagai orang kafir atau telah murtad dari agamanya. Mereka tidak mengetahui patokan-patokan syar`i untuk menghukumi seseorang itu menjadi kafir, fasik, sesat, atau yang lainnya. Kasihan mereka.
 
Mereka memberontak kepada pemerintahan muslimin yang sah. Hingga akibat pahit pemberontakan yang mereka lakukan ditelan oleh semua kaum muslimin. Sejarah Islam mencatat bahwa gerakan yang mereka lakukan selalu menyengsarakan kaum muslimin. Cara seperti ini tidak dibenarkan sama sekali dalam Islam.
 
Oleh karena itu para pemuda harus tahu patokan-patokan dalam beramar ma`ruf dan nahi mungkar. Apakah perbuatan yang dia lakukan itu bermanfaat atau tidak, apakah tindakannya itu membuahkan hasil yang baik atau bahkan menjerumuskan dirinya dalam kesesatan.
 
Harakah-harakah, yayasan-yayasan, organisasi-organsasi, dan kelompok-kelompok yang berpemahaman seperti pemahaman Khawarij ini tumbuh subur. Kita dapat melihat dengan kaca mata ilmu bahwa beberapa kelompok yang ada sekarang ini seperti: Harakah Hijrah wat Takwirnya DR. Umar Abdurrhaman, DI/TII/NII, Islam Jama`ah, atau Darul Hadits atau Lemkari atau LDII atau entah apalagi namanya yang akan diberikan kalau kebusukannya terungkap. Yang penting bagi kita untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka itu.
 
SIAPAKAH KHAWARIJ ITU?
 
Imam Al Barbahari berkata: “Setiap orang yang memberontak kepada imam (pemerintah) kaum muslimin adalah Khawarij. Dan berarti dia telah memecah kesatuan kaum muslimin dan menentang sunnah. Dan matinya seperti mati jahiliyyah.” (Syarhus Sunnah karya Imam Al Barbahari, tahqiq Abu Yasir Khalid Ar Radadi hal. 78).
 
Asy Syahrastani berkata: “Setiap orang yang memberontak kepada imam yang disepakati kaum muslimin disebut Khawarij. Sama saja, apakah ia memberontak di masa shahabat kepada imam yang Rasyidin atau selah mereka di masa para tabi`in dan para imam di setiap zaman.”(Al Milal wan Nihal hal.114).
 
Khawarij juga adalah orang yang mengkafirkan kaum muslimin hanya karena mereka melakukan dosa-dosa, sebagaimana yang akan kita paparkan nanti.
 
Imam Ibnul jauzi berkata dalam kitabnya Talbis Iblis: “Khawarij yang pertama dan yang paling jelek adalah : Dzul Kuwaishirah. Abu Sa`id berkata: “Ali pernah mengirim dari Yaman kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sepotong emas dalam kantung kulit yang telah disamak dan emas itu belum dibersihkan dari kotorannya. Maka Nabi membaginyakepada empat orang : Za`id Al Khalil, Al Aqra` bin Habis, `Uyainah bin Hishn dan Alqamah Watsah atau `Amir bin Ath Thufail. Maka sebagian para shahabatnya, kaum Anshar serta selain mereka merasa kurang senang. Maka Nabi berkata:
“Apakah kalian tidak percaya kepadaku, padahal wahyu turun kepadaku dari langit di waktu pagi dan sore?!”
 
kemudian datanglah seorang laki-laki yang cekung kedua matanya, menonjol bagian atas kedua pipinya, menonjol dahinya, lebat jenggotnya, tergulung sarungnya dan botak kepalanya. Orang itu berkata: “Takutlah kamu kepada Allah, wahai Rasulullah!”. Maka Nabi mengangkat kepalanya dan melihat orang itu kemudian berkata: “Celakalah engkau, bukanlah aku manusia yang paling takut kepada Allah?” Kemudian oran itu pergi. Maka Khalid berkata: “Wahai Rasulullah, bolehkah aku penggal lehernya?” Nabi berkata: “Mungkin dia masih shalat.” Khalid berkata berapa banyak orang yang shalat dan berucap dengan lisannya (shahadat) ternyata bertentangan dengan isi hatinya?” Nabi berkata: “Aku tidak disuruh untuk menelitiisi hati manusia. Dan membelah dada mereka.” Kemudian Nabi melihat kepada orang itu dalam keadaan berdiri karena takut sambil berkata:
“Sesungguhnya akan keluar dari orang ini satu kaum yang membaca Al Quranyang tidak melampaui tenggorokan mereka . mereka lepas dari agama seperti lepasnya anak panah dari buruannya.”(HR. Bukhari no. 4351 dan Muslim no. 1064).
 
Imam Ibnul Jauzi berkata : “Orang itu dikenal dengan nama Dzul Kuwashirah At Tamimi. Dia adalah orang Khawarij yang pertama dalam Islam. Penyebab kebinasaannya adalah karena dia merasa puas dengan pendapatnya sendiri. Kalau dia berilmu, tentu ia akan tahu bahwa tidak ada pendapat yang lebih tinggi dari pendapat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
 
Para pengikut orang ini termasuk orang-orang yang memerangi `Ali bin Abi Thalib. Itu terjadi ketika peperangan antara `Ali dengan Muawiyah telah berlarut-larut. Pasukan Muawiyah mengangkat mushaf-mushaf dan memanggil pasukan `Ali untuk bertahkim (mengadakan perundingan). Maka mereka berkata: “Kalian memilih satu orang dan kami juga memilih satu orang. Kemudian kita minta keduanya untuk memutuskan perkara berdasarkan kitabullah.” Maka manusia (yang terlibat dalam peperangan itu) berkata: “Kami setuju.” Maka pasukan Muawiyah mengirim `Amr bin Al `Ash. Dan pasukan `Ali berkata kepadanya: “Kirimlah Abu Musa Al Ay`ari.” `Ali berkata: “Aku tidak setuju kalau Abu Musa. Ini Ibnu Abbas , dia saja.” Mereka berkata: “Kami tidak mau dengan orang yang masih ada hubungan kekeluargaan denganmu.” Maka akhirnya dia mengirim Abu Musa dan keputusan diundur dan diundur sampai Ramadhan. Maka Urwah bin Udzainnah berkata: “Kalian telah berhukum kepada manusia pada perintah Allah. Tidak ada hukum kecuali milik Allah.”(Ini slogan yang selalu didengungkan oleh Khawarij sampai sekarang . ucapan ini benar, tetapi makna yang dimaukan tidak benar.).
 
`Ali kemudian pulang dari Shiffin dan masuk ke Kufah,tetapi orang-orang Khawarij tidak mau masuk bersamanya. Mereka pergi ke suatu tempat yang bernama Harura` sebanyak dua belas ribu orang kemudian berdomisili di situ. Mereka meneriakkan slogan: “Tidak ada hukum kecuali Hukum Allah!!”.
 
Itulah awal tumbuhnya mereka. Dan mereka memproklamirkan bahwa komandan perang adalah: Syabats bin Rib`I At Tamimi dan imam shalat adalah: Abdullah bin Al Kawwa` Al Yasykuri.
 
Khawarij adalah orang yang sangat kuat ibadahnya, tetapi mereka meyakini bahwa mereka lebih berilmu dari `Ali bin Abi Thalib. Dan inilah penyakit yang berbahaya.
 
Ibnu Abbas berkata: “Ketika Khawarij memisahkan diri, mereka masuk ke suatu daerah. Ketika itu jumlah mereka enam ribu orang. Mereka semua sepakat untuk memberontak kepada `Ali bin Abi Thalib. Dan selalu ada orang yang datang kepada `Ali sambil berkata: “Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya kaum ini ingin memberontak kepadamu.” Maka `Ali berkata: “Biarkan mereka, karena aku tidak akan meremerangi mereka hingga mereka dahulu yang memerangiku dan mereka akan tahu nanti.” Maka suatu hari aku datangi dia (`Ali) di waktu shalat dzuhur dan kukatakan kepadanya: Wahai Amirul mukminin, segerakanlah shalat, aku ingin mendatangi mereka dan berdialog dengan mereka. Maka `Ali berkata : “Aku mengkhawatirkan kesalamatan dirimu.” Aku katakan: “Jangan takut, aku seorang yang baik akhlaknya dan tidak pernah menyakiti seseorang pun.” Maka dia akhirnya mengizinkanku. Kemudian aku memakai kain yang bagus buatan Yaman dan bersisir. Kemudian aku datangi mereka di tengah hari. Maka aku memasuki suatu kaum yang belum pernah aku lihat hebatnya mereka dalam beribadah. Jidat mereka menghitam karena sujud. Tangan-tangan mereka kasar seperti lutut unta. Mereka memakai gamis yang murah harganya dalam keadaan tersingsing. Wajah mereka pucat karena banyak bergadang di waktu malam. Kemudian aku ucapkan salam kepada mereka. Maka mereka berkata: “Selamat datang Ibnu Abbas, ada apakah?” Maka aku katakan kepada mereka: “Aku datang dari sisi kaum muhajirin dan anshar serta dari sisi menantu Nabi . keapada mereka Al Qur`an turun dan mereka lebih tahu tentang tafsirnya dari pada kalian.” Maka sebagian mereka berkata: “Jangan kalian berdebat dengan orang Quraisy karena Allah telah berfirman:
“Tapi mereka adalah kaum yang suka berdebat.” (Az Zukhruf: 58).
 
Maka ada tiga orang yang berkata: “Kami akan tetap berbicara mendengarnya dengannya.” Maka aku katakan kepada mereka: Keluarkanlah apa yang membuat kalian benci kepada menantu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Muhajirin, dan Anshar. Kepada mereka AlQur`an turun. Dan tidak seorangpun dari mereka yang ikut bersama kelompok kalian. Mereka adalah orang yang lebih tahu tentang tafsir Al Qur`an.
 
Mereka berkata: “Ada tiga hal.” Aku berkata: “Sebuitkan!” Mereka berkata: “Pertama, Dia (`Ali) berhukum kepada manusia dalam perintah Allah, sedangkan Allah telah berfirman:
“Sesungguhnya hukum hanya milik Allah.” (Al An`am: 57).
 
Maka apa gunanya orang-orang itu kalau Allah sendiri telah memutuskan hukum?!” Aku berkata: “Ini pertama, lalu apa lagi?” Mereka berkata : “Kedua, Dia (`Ali) telah berperang dan membunuh, tapi mengapa dia tidak mau mengambil wanita sebagai tawanan dan harta rampasan musuhnya? Jika mereka (orang-orang yang diperangi `Ali) memang kaum muslimin, mengapa dia membolehkan kita untuk memerangi dan membunuh mereka, tapi dia melarang kita untuk mengambil tawanan?” Aku berkata lagi: “Apa yang ketiga?” Mereka berkata: “Dia (`Ali) telah menghapus dari dirinya gelar Amirul Mukminin (pemimpin kaum mukminin), maka kalau dia bukan Amirul Mukminin, berarti dia adalah Amirul Kafirin (pemimpin arong kafir).” Aku berkata: “Apakah ada selain ini lagi?” Mereka berkata: “Cukup ini saja.”
 
Aku katakan kepada mereka: “Adapun ucapan kalian tadi: “Dia berhukum kepada manusia dalam memutuskan hukum Allayh,” akan kau bacakan kepada kalian suatu ayat yang membantah argumen kalian. Jika argumen kalian telah gugur apakah kalian akan ruju`?” Mereka berkata: “Tentu.” Aku berkata: “Sesungghnya Allah sendiri telah menyerhkan hukum-Nya kepada beberapa orang tentang sperempat dirham harga kelinci, dan ayatnya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membunuh binatang buruan ketika kalian sedang ikhram. Barang siapa yang di antara kalian membunhnya dengan sengaja, maka dendanya adalah dengan mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kalian.” (Al Maidah: 59).
 
Dan juga tentang seorang istri dengan suaminya:
“Dan jika kalian khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.” (An Nisa`: 35).
 
Maka aku sumpah kalian dengan nama Allah, maka manakah yang lebih baik kalau mereka berhukum dengan manusia untuk memperbaiki hubungan antara mereka untuk menahan darah mereka agar tidak tertumpah atau lebih utama hokum yang mereka putuskan dalam harga seekor kelinci dan seorang wanita? Manakah antara keduanya yang lebih utama?” Mereka berkata: “Tentu yang pertama.” Aku berkata: “Apakah kalian keluar dari kesalahan ini?” Mereka berkata: “Baiklah.”.
 
Aku berkata: “Adapun ucapan kalian: “Dia (`Ali) tidak mau mengambil tawanan dan ghanimah (rampasan perang).” Apakah kalian akan menawan Ibu kalian, Aisyah? Demi Allah, kalau kalian berkata: “Kami tetap akan menawannya dan menghalalkan (kemaluan)nya untuk digauli seperti wanita lain (karena dengan demikian Ibu kita Aisyah berstatus budak dan budak hukumnya boleh digauli oleh pemiliknya-pen).” Berarti kalian telah keluar dari Islam. Maka kalian berada di antara dua kesesatan, karena Allah telah berfirman:
 
“Nabi itu lebih mulia bagi orang-orang mukmin dari dirii-diri mereka. Dan istri-istri nabi adalah ibu-ibu mereka.”(Al Ahzab: 6). Maka apakah kalian keluar dari kesalahan ini?” Mereka berkata: “Baiklah.”
 
Aku berkata: “Adapun ucapan kalian: “Dia telah menghapus dari dirinya gelar Amirul Mukminin.” Aku akan membuat contoh dari orang yang kalian ridhai, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Pada perjanjian Hudaibiyah, beliau berdamai dengan kaum musrikin , Abu Sufyan bin Harb dan Suhail bin `Amr. Beliau berkata kepada `Ali: “Tulis untuk mereka sebuah tulisan yang berbunyi: “Ini apa yang disepakati oleh Muhammad Rasulullah.”. Maka kaum musrikin berkata: “Demi Allah, kami tidak mengakuimu sebagai Rasulullah. Kalau kami mengakuimu sebagai Rasulullah, untuk apa kami memerangimu?!” Maka beliau bersabda: “Ya Allah, Engkau yang tahu aku adalah Rasul-Mu. Hapuslah kata itu `Ali!” (HR. Bukhari no 2669 dan Muslim no 1783. Dan tulislah: “Ini apa yang disepakati oleh Muhammad bin Abdullah.” Maka demi Allah, tentu Rasulullah lebih baik dari `Ali, tapi beliau sendiri menghapus gelar itu dari dirinya hari itu.”
 
Ibnu Abbas berkata: “Maka bertaubatlah 2000 (dua ribu) orang dari mereka dan selainnya tetap memberontak, maka mereka pun akhirnya dibunuh.” (Talbis Iblis hal. 116-119).
 
Dari kisah tadi bias kita bias mengambil beberapa point yang menerangkan bahwa di antara sifat orang Khawarij adalah:
 
1.Jahil terhadap fitrah dan syariat Islam
 
Ini tampak dari sabda nabi Shalallahu Alaihi Wasallam:
“Mereka membaca Al Qur`an, tetapi tidak melewati kerongkongan mereka.”(HR. Bukhari no. 3610 dan Muslim no. 4351).
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menyatakan bahwa mereka banyak membaca Al Qur`an ,tetapi beliau sendiri mencela mereka, mengapa demikian? Karena mereka tidak faham tentang Al Qur`an. Mereka mencoba memahami sendiri-sendiri Al Qur`an dengan akal-akal mereka. Mereka enggan belajar kepada para shahabat. Maka dari itu Ibnu Abbas berkata: “Aku dating dari sisi kaum Muhajirin dan Anshar serta menantu Nabi. Al Qur`an turun kepada mereka. Dan mereka lebih tahu tentang tafsirnya dari kalian.” Dan: “Al Qur`an turun kepada mereka yang ikut bersama kelompok kalian, sedangkan mereka adalah orang yang paling tahu tafsirnya.”
 
Maka hendaknya seseorang merasa takut kepada Allah kalau dia menafsirkan ayat seenak perutnya tanpa didasari keterangan dari para ulama ahli tafsir yang berpemahaman Salaf.
 
Dan penangkal penyalit ini adalah dengan belajar, bukan dengan berlagak pintar. Maka belajarlah,karena para Salaf shalih adalah orang yang rajin belajar. Alangkah celakanyaorang yang baru belajar beberapa saat, kemudian menyatakan dirinya sebagai ulama, ahli hadits, faqih, mutjahid, dst.
 
Al Hafidh Ibnu Hajar berkata: “Imam An Nawawi berkata: “yang dimaksud adalah mereka tidak mendapat bagian kecuali hanya melewati lidah saja dan tidak sampai kepada kerongkongan mereka, terlebih lagi hati-hati mereka. Padahal yang dimaukan adalah mentadabburinya (memperhatikan dan merenungkan dengan teliti) agar sampai ke hati.” (Fathul Bari 12/293).
 
2.Mereka adalah orang-orang yang melampaui batas dalam beribadah.
 
Ini tampak dari keterangan Ibnu Abbas tentang mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang hitam jidatnya, pucat wajahnya karena seringnya begadang di waktu malam, …….dst.
 
Dan juga diterangkan oleh haditsRasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
“Akan dating suatu kaum pada kalian yang kalian akan merasa rendah bila shalat dibandingkan dengan shalat mereka, puasa kalian dibandingkan dengan puasa mereka, amal-amal kalian dibandingkan dengan aml-amal mereka. Mereka membaca Al Qur`an, (tetapi) tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka lepas dari agama ini seperti lepasnya anak panah dari buruannya.” (Bukhari no. 5058 dan muslim no. 147, 1064).
 
Mereka melampaui batas dalam beribadah hingga terjerumus ke dalam bid`ah. Merek tidak tahu bahwa: “Sederhana dalam sunnah lebih baik dari pada bersungguh dalam bid`ah”
 
“Inilah adalah ucapan emas. Telah shahih dari beberapa shahabat, di antaranya: Abu Darda`, dan Ibnu Mas`ud.
 
Ubay bin Ka`ab berkata: “Sesungguhnya sederhana dalam sunnah, itu lebih baik daripada bersungguh tetapi menentang jalan ini dan sunnah. Maka lihatlah amalan kalian jika dalam dalam keadaan bersungguh-sungguh atau sederhana hendaknya di atas manhaj (cara pemahaman dan pengamalan) para nabi dan sunnah mereka.”
 
Ini adalah ucapan yang yang memberikan keagungan bagi seorang muslim yang ittiba` (mengikuti) secara benarsecara benar dalam amalan-amalan dan ucapan-ucapannya sehari-hari.
 
Ucapan ini diambil dari beberapa hadits di antaranya :
 
“Jangan kalian melampaui batas dalam agama ini.”
 
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinnyu (terus menerus) walaupun sedikit.” (Bukhari 1/109 dan Muslim no. 782)” (Ilmu Ushulil Bida`, Syaikh Ali Hasan hal. 55-56).
 
Seorang alim ahli Al Qur`an, Muhammad Amin Asyinqithi, berkata dalam Adwa`ul Bayan 1/494 : `Para ulama telah menyatakan bahwa kebenaran itu berada di antara sikap melampaui batas dan sikap meremehkan. Dan itu adalah makna ucapan Mutharif bin Abdullah:
 
“Sebaik-baik urusan adalah yang di tengah-tengah. Kebaikan itu terletak di antara dua kejelekan.”
 
Dan dengan itu kamu tahu bahwa orang yang berhasil menjauhi kedua sifat itu telah mendapat hidayah.` “Ucap Syaikh Ali Hasan dalam buku Dhawabith Al Amr bil Ma`ruf wan Nahyi `anil Mungkar `Inda Syaikul Islam IbnuTaimiyah hal. 9.
 
3.Menghalakan darah kaum muslimin dan menuduh mereka sebagai orang yang telah kafir
 
Sifat ini sudah melekat kental pada mereka. Tapi, yang mengherankan, mereka bersikap adil terhadp orang-orang kafir. Imam Ibnul Jauzi berkata:
 
“Di perjalanan orang-orang Khawarij bertemu dengan Abdullah bin Khabbab, maka mereka berkata: Apakah engkau pernah mendengar dari ayahmu sebuah hadits yang dia dengar dari Rasulullah? Dia menjawab: Ya aku mendengar ayahku berkata: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam pernah berbicara tentang fitnah . “Yang duduk lebih baik dari pada yang berdiri. Dan yang berdiri lebih baik dari pada yang yang berjalan. Dan yang berjalan lebih baik dari pada yang berlari. Mak ajika engkau mendapati masa seperti itu, jadilah engkau seorang hamba yang terbunuh.” (HR. Ahmad 5/110, Ath Thobrani no. 3630 dan hadits ini memiliki beberapa syawahid.)
 
mereka berkata : “Apakah engkau mendengar ini dari ayahmu yang dia sampaikan dari Rasulullah ?” Dia menjawab: “Ya.” Maka mereka membawanya ke tepi sungai kemudian mereka penggal lehernya. Maka muncratlah darahnya seakan-akan dua tali sandal. Kemudian mereka membelah perut budak wanitanya yang sedang hamil.
 
Dan ketika mereka melewati sebuah kebun kurma di Nahrawan, jatuhlah sebuah. Maka salah seorang mereka mengambilnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka temannya berkata: “Engkau telah mengambilnya dengan cara yang tidak benar dan tanpa membayar.” Kemudia dia memuntahkannya. Dan salah seorang di antara mereka ada yang menghunuskan pedangnya dan mengibaskannya, kemudian lewatlah seekor babimilik ahli dzimmah (kafir yang membayar jizyah) dan dia membunuhnya. Mereka berkata: “Ini adalah perbuatan merusak di muka bumi.” Kemudian dia menemui pemiliknya dan membayar harga babi itu.” (Talbis Iblis hal. 120-121).
 
 
 
PELAKU DOSA BESAR TIDAK MENJADI KAFIR
 
Ini adalah I`tiqad (keyakinan) Ahlussunnah Wal jama`ah. Dan Khawarij dalam hal ini menyelisihi Ahlussunnah. Mereka menyatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar seperti berzina, mencuri, minum khamar dan yang sejenisnya telah kafir. Ini bertentangan dengan ayat:
 
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan Allah. Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia dikehendaki.” (An Nisa: 48).
 
“Dan Allah mengkhabarkan bahwa Dia tidak mengampuni dosa itu (Syirik) bagi orang yang belum bertaubat darinya.” (Kitabut Tauhid, Syaikh Sholih Al Fauzan hal 9).
 
“Dalam ayat ini ada bantahan kepada orang-orang Khawarij yang menganggap kafir karena melakukan dosa-dosa. Dan juga bantahan bagi Mu`tazilah yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar itu kekal di dalam neraka. Dan mereka (para pelaku dosa besar) menurut Mu`tazilah bukan mukmin dan bukan kafir .” (Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman, hal. 78).
 
4.Mereka adalah orang yang muda dan buruk pemahamannya.
 
Ini diambil dari hadits :
 
“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang muda-muda umurnya. Pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan sebaik-baik manusia. Merek a membaca Al Qur`an , tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka lepas dari agama mereka seperti anak panah lepas dari buruannya.” (Bukhari no. 3611 dan Muslim no. 1066.)
 
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Ahdatsu Asnan artinya bahwa mereka itu para pemuda . dan sufaha`ul Ahlam artinya akal mereka jelek. Imam An Nawawi berkata: Kemantapan dan bashirah yang kuat akan muncul ketika usia mencapai kesempurnaan.” (Fathul Bari 12/287).
 
 
 
DIBUNUHNYA IBNU MULJAM (TOKOH KHAWARIJ YANG MEMBUNUH `ALI)
 
Imam Ibnul Jauzi berkata: “Ketika `Ali telah wafat, dikeluarkanlah Ibnu Muljam umtuk dibunuh. Maka Abdullah bin Ja`far memotong kedua tangan dan kakinya, tetapi dia tidak berteriak dan berbicara. Kemudian matanya dipaku dengan paku panas, dia juga tetap tidak berteriak bahkan dia membaca surat Al `Alaqsampai habis dalam keadaan darahnya mengalir dari kedua matanya. Dan ketika lidahnya akan dipotong, barulah dia berteriak?” Dia berkata: “Mengapa engkau tidak suka kalau aku mati di dunia ini dalam keadaan tidak berdzikir kepada Allah.” Dan dia adalah orang yang keningnya berwarna kecoklatan karena bekas sujud. Semoga Allah melaknat.” (Talbis Iblis hal. 122).
 
Beliau berkata lagi : “Mereka memiliki kisah-kisah yang panjang dan madzab-madzab yang aneh. Aku tidak ingin memperpanjangnya, karena yang dimaukan disini adalah untuk melihat bagaimana Iblis menipu orang-orang yang dungu itu. Yang mereka beramal dengan keadaan mereka dan mereka meyakini bahwa `Ali bin Abi Thalib adalah pihak yang salah. Dan orang-orang yang bersama dengannya dari kalangan muhajirin dan anshar. Dan hanya mereka saja yang berada di atas kebenaran.
 
Mereka menghalalkan darah anak-anak tetapi menganggap tidak boleh memakan buah tanpa membayar harganya. Mereka bersusah-susah dalam ibadah dan begadang. Ibnul Muljam berteriak berteriak ketika akan dipotong lidahnya karena takut tidak berdzikir. Mereka menganggap halal untuk memerangi `Ali.
 
Kemudian mereka menghunuskan pedang-pedang mereka kepada kaum muslimin. Dan tidak ada yang mengherankan dari merasa cukupnya mereka dengan ilmu mereka dan meyakini bahwa mereka lebih berilmu dari `Ali. Dzul Khuwashirah telah berkata kepada Nabi: “Berbuat adillah, karena engkau tidak adil.” Dan iblislah yan menunjuki mereka kepada kehinaan ini. Kita berlindung kepada Allah dari ketergelinciran.” (Talbis Iblis hal 123).
 
 
Firqah-firqah Khawarij
 
Imam Ibnul Jauzi berkata: “Haruriyah (nama lain dari Khawarij-pen) terbagi menjadi dua belas kelompok. Pertama; al Azraqiyah, mereka berkataL: Kami tidak tahu seorangpun yang mukmin. Dan mereka mengkafirkan kaum muslimin (ahli kiblat), kecuali orang yang sefaham dengan mereka. Kedua : Ibadhiyah, mereka berkata: Siapa yang menerima pendapat kita adalah orang mukmin dan siapa yang bepaling adalah orang munafik. Ketiga : Ats Tsa`labiyah, mereka berkata : Sesungguhnya Allah tidak ada menetapkan qadha dan qadar. Keempat : Al Hazimiyyah, mereka berkata: Kami tidak tahu apa iman itu. Dan semua makhluk akan diberi udzur (dimaafkan karena ketidaktahuaanya). Kelima : Khalafiyah, mereka berkata : Pria dan wanita yang meninggalkan jihad berarti telah kafir (Ini seperti pendapat NII, dan jama`ah jihad lainnya semisal, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Bashir). Keenam : Al Mujarromiyah, mereka berpendapat : Seseorang tidak boleh menyentuh orang lain , karena dia tidak tahu yang suci dengan najis. Dan janganlah dia makan bersama orang itu hingga orang itu bertaubat dan mandi (ini seperti pendapat LDII). Ketujuh: Al Kanziyah, mereka berpendapat : Tidak pantas bagi seseorang untuk memberikan hartanya kepada orang lain, karena mungkin dia bukan orang yang berhak menerimanya. Dan hendaklah dia hendaklah dia menyimpan harta itu hingga muncul para pengikut kebenaran. Kedelapan: Asy Syimrakiyah, mereka berpendapat : Tidak mengapa menyentuh wanita ajnabi (yang bukan mahram), karena mereka adalah rahmat (ini seperti pendapat Hizbut Tahrir). Kesembilan: Al Akhnasiyah, mereka berpendapat: Orang yang mati tidak akan mendapat kebaikan dan kejelekan setelah matinya. Kesepuluh: al Muhakkimiyah, mereka berpendapat ; siapa yang berhukum kepada makhluk adalah kafir. Kesebelas : Mu`tazilah dari kalangan Khawarij, mereka berkata: Samar bagi kami masalah `Ali dan Muawiyah, maka kami berlepas diri dari dua kelompok itu. Kedua belas: Al Maimuniyah, mereka berpendapat: Tidak ada imam, kecuali dengan restu orang-orang yang kami cintai.” (Talbis Iblis hal. 32-33).
 
Harakah-harakah Islam dewasa ini juga banyak terkena fikrah (pemikiran) seperti ini. Mereka menganggap kaum muslimin yang tidak sefaham dengan mereka sebagai orang-orang yang telah murtad dari agama Allah. Dan yang parahnya juga, mereka membolehkan untuk mencuri barang milik selain kelompok meeka dengan alasan : Ini harta orang kafir (fai`)..
 
Tetapi ketika dakwwah salafiyyah muncul dan kemudian menyeang mereka dan meluluhlantakan mereka, mereka pun sekarang berkata: Kami juga Salafy, ya akhi. Kami juga ahlus Sunnah. Ini mirip dengan seperti yang dikatakan oleh penyair;
 
“Semua mengaku memiliki hubungan dengan Laila. Tapi Laila sendiri tidak mengakuinya.”
 
Maka hendaknya seorang itu melihat kembali dan mengoreksi langkah dakwah yang ia tempuh selama ini. Dan hendaknya ia kembali kepada manhaj salaf dalam aqidah dan manhaj. Dan itu akan didapat dengan belajar serta memohon bimbingan dari Allah. Atau kalau kita tidak akan menjadi seperi yang dikatakan oleh Allah:
 
“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini , sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi 103-104).
 
Dan amalannya hanya akan menjadi amalan yang meletihkan.” (Al Ghasyiyah: 3).
 
Maka hendaknya seseorang itu berhati-hati dalam bekerja. Hendaklah dia sadar kalau amalannya akan menjadi sia-sia dan tidak berguna. Dan jadilah dia orang yang merugi di akhirat. Mari kita ajak mereka dengan tegas : “Kembali kepada Al Qur`an dan Sunnah dengan pemahaman para salaf umat ini.”
 
 
 
BOLEHKAH SESEORANG MEMERANGI KHAWARIJ?
 
Imam Al Barbahari berkata: “Dihalalkan memerangi Khawarij bila mereka menyerang kaum muslimin, membunuh mereka, merampas harta dan mengganggu keluarga merega.” (hal. 78).
 
Penutup
 
Sebagai penutup pembicaraan tentang Khawarij, saya akan membawakan sebuah kisah tentang taubatnya seorang Khawarij. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al Lalika`i, setelah beliau membawakan sanadnya, beliau berkata: Muhammad bin Ya`qub Al Hasham berkata: Pernah ada dua orang Khawarij thawaf di Baitullah, maka salah seorang berkata kepada temannya: Tidak ada yang masuk surga dari semua yang ada ini kecuali hanya aku dan engkau saja. Maka temannya berkata: Apakah surga diciptakan Allah seluas langit dan bumi hanya akan ditempati oleh aku dan engkau? Temannya berkata: Betul. Maka temannya tadi berkata: Kalau begitu, ambillah surga itu untukmu. Maka orang itupun meninggalkan faham Khawarijnya. (Syarah Ushul I`tiqad Ahlus Sunnah wal Jama`ah 7/1234 tahqiq DR. Ahmad Sa`ad Hamdan no. 2317) . Allahu a`lam bish shawab

Written by berbagilentera

November 14, 2008 at 12:14 am

Posted in Berbagi Nasihat

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: