Berbagi Lentera

:: karena Hidup Pasti Butuh Lentera ::

“Revolusi Cinta, dari Birahi kepada Illahi”

leave a comment »

Oleh: Ainul Haris, Lc. M.Ag

Cinta adalah anugerah besar Allah kepada manusia.
Kita pun lahir –atas izin Allah- karena dorongan cinta ayah ibu kita. Dan…. Nongollah kita ke dunia, yang juga membawa benih cinta. Demikian manusia beranak pinak di dunia, karena disupport oleh vitamin C (Cinta).

Siapa yang ndak kenal cinta? Ah, kagak ada! Apalagi kamu-kamu para remaja. Tentu paling jago dalam urusan yang dalam istilah lebih spesifik dan ngepas disebut dengan pacaran. Cinta adalah topik terindah dalam pembicaraan remaja. Cinta memberi warna dalam setiap tindak tanduk dan pemikiran, khususnya remaja. Tapi cinta juga bisa bikin senewen, majnun bin gendeng. Misal, Qais yang sampek dijuluki Majnun Laila, “Si Gila karena Laila.”

Manusia lahir dibekali dengan soft ware cinta kepada lawan jenis. Ini fitrah, naluriah dan sunnatullah. So, ndak usah risih bicara cinta. Sama dengan soft ware-soft ware yang lain, seperti nafsu makan, minum, ambisi unggul and so on. Ndak pa pa, tapi yang penting gimana supaya cinta itu dalam bingkai petunjuk dan ridha Ilahi.

Ndak usah urusan cinta, urusan makan aja bisa melahirkan “reward” yang berbeda. Kalo kita makan dari rizki yang halal, makanannya juga halal, cara mengkonsumsinya juga halal (tidak boros dan berlebih-lebihan) dan diniati untuk bisa produktif dan kuat ibadah maka makan menjadi bernilai ibadah. Sebaliknya, jika makan dari rizki yang haram, atau makanannya dari jenis yang diharamkan, atau cara mengkonsumsinya boros maka yang begini ini berdosa. Padahal dua-duanya sama makannya, atau nilai makanannya sama-sama lima ribu, misalnya, tapi yang satu berpahala, yang lainnya berdosa. Nah, lo.

Dari pembukaan di atas, di antara kamu pasti ada yang curiga dan bergumam, “Nah, kalo gitu berarti ada pacaran yang halal dan ada juga pacaran yang haram? Asyik!”

Itu kesimpulan yang prematur, neng.

Okey, kita langsung masuk aja ke materi. Jadi, posisi cinta yang halal bagi kita-kita remaja ini bagaimana, padahal kan ndak mungkin kita ngrendem cinta di dasar hati semata? Bagaimana menyalurkan rasa cinta di saat remaja?

Ini pertanyaan menarik. Semua kita sepakat, remaja tidak mungkin dipaksa menanggalkan rasa cinta. Ia hadir, terasa dan yang membuat hidup indah, itulah cinta. Tapi cinta apa dan atau kepada siapa?

Biar lebih jelas, kita bahas dulu cinta remaja yang terlarang. Sebab kata ahli hikmah, dengan mengetahui hakikat lawannya, setiap persoalan menjadi jelas. Di sini ada cinta remaja yang dianjurkan dan ada cinta remaja yang dilarang.

Cinta remaja yang dilarang adalah yang dikenal dengan istilah pacaran. Kenapa pacaran dilarang? Sebab pacaran adalah media paling memungkinkan untuk memancing hubungan seks di luar nikah (zina). Lha gimana, wong semua hal dalam pacaran konvensional (awas lho yah, jangan dibilang ada pacaran syari’ah, kayak bank aja!) itu dibolehkan. Dalam aktivitas pacaran, semua yang haram-haram dianggap lumrah and biasa. Dari soal saling memandang, bercanda manja,berboncengan, menyentuh bahkan berciuman pun, dianggap bumbu dan bunga-bunga pacaran. Padahal, setiap yang baik atau yang buruk kan, terjadinya bertahap, bener nggak? Lha, tahapan puncak pacaran yaitu tadi, zina! Na’udzubillah min dzalik.

Karena kini pacaran menjadi budaya remaja Indonesia, maka jangan terkejut jika banyak dari mereka lepas kendali, mencapai tahapan puncak keharaman, alias berzina dengan pacarnya. Betapa miris hati kita membaca hasil penelitian Iip Wijayanto –lepas benar tidaknya penelitian ini, tapi bisa jadi bahan introspeksi- yang menyatakan bahwa 97,5% cewek di Yogya sudah nggak perawan lagi. Subhanallah!

Suwer, atas nama cinta, banyak remaja yang jadi bloon dengan nyerahin semuanya ke yayangnya. Gombal dan bikin jijay. Apalagi sekarang ini banyak media, mudah didapat dan murah, utamanya acara-acara TV yang cepat mendewasakan remaja dalam urusan biologis. Maka para cowok remaja sering minta “pembuktian” cinta kepada yayangnya dengan cara menyerahkan kesucian dirinya. Sehingga, di mana-mana banyak kasus perkosaan atas nama cinta. Dan percayalah!, setelah mereguk madu, sang arjuna akan menghilang seakan ditelan bumi, lalu pasang gaya lagi untuk mengkadali cewek-cewek lain sebagai mangsa baru. Nah, lho!

Dan yakinlah 90% mereka yang berpacaran adalah sekedar pacaran. Ya cuma “pacar” ndak lebih! Persis sifat pacar air yang menjadi pemerah kuku. Bila telah usang atau pudar warnanya, maka akan diganti dengan pacar yang baru. He he he….. Ya karena cuma “pacar” kalau masih merah dan menyenangkan dipakai. Kalau sudah pudar, menyebalkan dan tidak cantik lagi, ya diganti. Kaciaan deh, lu!

Anggaplah, pacaran itu tidak sampai berbuah zina. Tapi mata tetap jelalatan, boncengan berarti sentuhan, apalagi yang sampai berpegangan dan berciuman. Jika “keperawanan” itu dimaknai secara luas. Artinya, hendaknya wanita “terjaga”, “tersegel” dan “perawan” dari sentuhan-sentuhan lelaki yang tidak berhak atasnya, maka berapa banyak perempuan belum menikah yang “tidak perawan” dan “segel”nya sudah terbuka?

Dan bagi seorang calon suami yang shalih, bila tiba-tiba mengetahui calon isterinya misalnya telah pacaran tiga kali, tentu akan menimbulkan dampak psikologis. Dia yang mendambakan isterinya belum “tersentuh”, dan masih “segelan” tenyata sudah gonta-ganti pacar tiga kali. Bisa aja terbersit di benaknya, “Kalo gitu aku “suami” ke berapa, jika dia melakukan hal-hal itu sebelumnya?”

Ada juga yang kelasnya baru pada tingkat fantasi. Pengen sih pengen tapi belum ada kesempatan. Karena nggak ada yang nembak (ih, serem), dia berfantasi dengan sang arjuna atau sang dewi. “Duhai, andaikan aku bergandengan tangan dengan si dia! Duhai, andaikan kubelai mesra rambutnya, kuusap lembut jari lentiknya! Duhai,….. …..” (Udahlah, gombal!, ndak usah ngelamun, abis-abisin waktu, mending baca buku).

Yang lain lagi, aktivis rohis, kampus atau masjid. Ia tak mau ketinggalan kegiatan dakwah. Tapi sambil menyelam minum air, rapat-rapat tapi sambil menggetarkan hati kepada akhwat atau ikhwan yang dipujanya, yang sesama aktivis. Matanya merem melek, mondar-mandir sok sibuk (tapi dengan hati berdebar-debar!), padahal maksudnya ya tadi, biar ketemu sang pujaan hati, (atau sedikit berpapasan pandang, cukuplah!), agar api kerinduan tersirami. Weleh-weleh.

Jelas kan? Semua itu sia-sia, dosa dan buang-buang waktu. Apalagi ada yang sampek bunuh diri (cintanya hingga ke ubun-ubun kali, ya) gara-gara ditinggal kawin pacar. Jangan, den! (Lagian ngapain udah ndak dapat pacarnya, nukarnya ama Neraka lagi, naudzubillah!)

Konklusinya, dalam pacaran itu –siapapun yang pacaran- hanya ada satu niat yaitu melampiaskan hawa nafsu. Meski kenyataan nafsunya bertingkat-tingkat, dari tingkat terberat (kecelakaan zina), hingga yang paling ringan, (kretek di hati). Atau di antara sodara-sodara ada yang bisa membuktikan pacaran tanpa hawa nafsu, atau yang mereka bilang cinta suci (suci produk dan ala setan kali, tapi ada lagunya, lo!)?

Padahal salah satu pertanyaan ujian nanti di Akhirat (Baca buku, “Ujian Di Akhirat Dan Kunci Jawabannya,” Pustaka eLBA, Surabaya) adalah tentang masa muda/remaja, bagaimana ia dihabiskan. Jadi, sudah ngeh kan hukum pacaran yang semuanya penuh dengan aktivitas yang menjurus ke zina itu? Jawab sendiri dong!

*** *** ***

Sekarang bagaimana cinta remaja yang dianjurkan? Kepada siapa cinta kita salurkan?

Sebetulnya, masa remaja adalah masa paling indah untuk menumbuhkan cinta suci. Cinta suci adalah dengan mencintai Dzat yang menganugerahkan cinta itu sendiri, yaitu Allah Ta’ala. Dan caranya adalah dengan mengikuti dan mencintai Nabi saw. Allah berfirman, artinya, “Katakanlah, ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31).

Bahkan bukti kesempurnaan iman seseorang adalah dengan mencintai Rasulullah saw lebih dari kecintaannya kepada segenap makhluk. Beliau bersabda:

“Tidaklah sempurna iman seorang hamba, hingga aku lebih ia cintai daripada keluarganya, hartanya dan seluruh umat manusia.” (Hadis Anas ra, Muslim).

Kalau ngaku cinta Rasul saw, itu artinya, dengan segenap cinta melakukan apa-apa yang dilakukan Rasul saw, menjauhi dengan segenap cinta apa-apa yang dijauhi oleh Rasul saw, dan mencintai serta membenci apa saja yang dicinta dan dibenci Rasul saw. Realisasinya? Ya membuat kita tak sempat menoleh dan melirik untuk mencintai selain Rasul saw.

Kalau pun toh dia punya cinta kepada selain Allah dan Rasul-Nya, maka cintanya adalah karena Allah dan di jalan Allah. Bukan cinta untuk cinta.

Kalau cinta kepada pacar bisa mendatangkan siksaan batin, njajanin anak orang, ngabisin duit, buang-buang waktu dan yang pasti jadi pabrik dosa (kalau yang kelewatan bonus hamil, ih serem), maka cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bisa mendatangkan ketentraman hati dan manisnya iman. Nabi saw bersabda,

“Tiga perkara yang barangsiapa tiga hal tersebut berada dalam dirinya maka ia akan mendapatkan manisnya iman; hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain-Nya, dan hendaklah ia mencintai seseorang dan tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan hendaklah ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana bencinya bila ia dilemparkan ke dalam api.” (Muttafaq Alaih).

Manisnya iman kata para ulama berarti, bisa merasakan lezatnya ketaatan dan siap menunaikan kewajiban agama, serta mengutamakan itu daripada seluruh materi di dunia.

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya akan membuat kita dijamin bersama Rasulullah di Surga. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik ia berkata, “Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw lalu bertanya,’Wahai Rasulullah, kapan datangnya hari Kiamat?’ Beliau bertanya, ‘Apa yang kamu persiapkan untuknya?’ Ia menjawab, ‘Cinta Allah dan cinta Rasul-Nya’. Beliau bersabda, ‘Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.’”

Kalau sudah cinta Allah dan cinta Rasul, maka semua materi duniawi di mata kita tampak kecil. Apalagi pacar, yang malah bikin dosa!

Karena cinta Rasul, maka jika Rasul seorang yang sangat baik akhlak dan budi pekertinya, kita akan meniru baik akhlak dan budi pekerti kita. Karena Rasul saw, ndak pacaran, kita pun ndak pacaran. Karena Rasul sangat baik kepada orang tua, sahabat, tetangga, maka kita pun meniru baik dan santun kepada orang tua, sahabat, tetangga dan semua yang bergaul dengan kita. Karena Rasul saw tekun beribadah, bahkan hingga bengkak kaki beliau, maka kita pun meniru tekun beribadah, meski mungkin tidak sampai membengkakkan kaki kita. And so on…..

Ya intinya, karena Rasul adalah manusia paling sempurna kebaikannya, maka kita berusaha meniru dan meneladani beliau sebatas yang kita mampu mencapai tingkat sempurna. So, ndak ada waktu dan kesempatan untuk bercinta-cintaan dan pacaran yang dilarang. Kita justeru sangat menikmati kebahagiaan dengan berkhalwat dan beribadah kepada Allah. Seperti dikatakan, kenikmatan para ahli tahajud di malam hari, itu melebihi kenikmatan yang dirasakan oleh mereka yang tenggelam dalam hiburan malam.

Maka, buruan jangan ketinggalan berlomba meraih kebahagiaan dan ketenangan dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya! Yang belum dapet pacar, syukur deh, tinggal langsung tancap gas! Yang terlanjur punya pacar kiriman doi surat sayonara, untuk kemudian hanya mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan, rasakan bedanya!

Makalah disampaikan dalam Seminar “Revolusi Cinta” di Masjid Manarul Islam, Sawojajar, Malang. Tgl. 13 September 2004.

Written by berbagilentera

October 14, 2008 at 12:56 am

Posted in Berbagi Nasihat

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: